Oleh: jayapurwo25 | Oktober 31, 2008

Artikel Sumpah Pemuda

SUMPAH PEMUDA DAN SUMPAH KITA

(oleh Sartono Jaya)


Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur  (Al Maidah: 80)

M

emperingati Sumpah Pemuda pada hakikatnya merekonstruksi ingatan kita pada peristiwa besar dalam perjalanan bangsa ini. Bukan sekedar sebuah ritual upacara yang kemudian hilang tak berbekas. Ada nilai-nilai, ruh, semangat, yang mesti kita petik dari peristiwa besar itu. Mampukah kita kemudian  menjadikannya sebagai pijakan dalam menapaki perjalanan bangsa ini.

Selasa, 28 Oktober 2008, bangsa ini memperingati hari bersejarah yakni Sumpah Pemuda. Sumpah sakti yang dicetuskan oleh pemuda waktu itu merupakan puncak makrifat pemuda akan hakikat kebangsaan yang telah tenggelam berabad-abad. Mereka yang berasal dari berbagai etnik yang plural, meleburkan diri dalam satu visi kebangsaan. Visi kebangsaan itu meliputi tiga hal: (1) bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan (3) berbahasa yang satu, bahasa Indonesia.

Ketiga sumpah itu telah mengilhami perjalanan bangsa ini di kemudian hari. Momen-momen besar seperti peristiwa Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945 merupakan buah dari Sumpah Pemuda. Sumpah itu juga telah memberikan ruh spirit sehingga bangsa ini berhasil keluar dari masalah riak-riak sparatisme yang sering muncul kemudian.

Delapan puluh tahun kini peristiwa besar  itu telah berlalu. 80 tahun merupakan bentangan waktu yang cukup panjang sehingga wajar anak-anak muda kini sukar untuk merekonstruksi makna sumpah itu. Memang, ada perbedaan yang begitu mencolok di antara kedua pemuda beda zaman itu, pemuda angkatan 1928 dan pemuda zaman 2008. Pemuda angkatan 1928 adalah pemuda yang mencetuskan sumpah sakti, yakni Sumpah Pemuda. Adapun generasi 2008, meskipun tidak semuanya, adalah pemuda yang sering disumpah-serapahi karena sering melakukan perbuatan-perbuatan yang sering “nerak wewaler” luhur.

Memaknai peringatan Sumpah Pemuda yang ke-80 ada baiknya kita cerahkan kembali diri kita semua. Sebab, pada hakikatnya kata pemuda di situ tidak mengkhususkan hanya pada anak muda, melainkan siapa pun yang berjiwa semangat muda. Siapa pun yang berjiwa muda dan mau maju harus mengambil spirit sumpah itu.

Menengok sejarah perjalan bangsa ini di masa lalu, ternyata kata sumpah telah terbukti membawa perubahan yang luar biasa bagi bangsa ini. Majapahit tidak akan mencapai keemasan jika Sang Mahapatih Gadjah Mada tidak bersumpah Amukti Palapa. Mataram tidak akan mencapai keagungan bila Sampean nDalem Panembahan Senopati ing Ngalaga Sayyiddin Panatagama Khalifatullah tidak berumpah menyatukan tanah Jawa. Indonesia tidak akan merdeka jika para pemuda waktu itu tidak menyatukan diri dalam Sumpah Pemuda.

Lalu sekarang kita mau apa? Ke-Panggih Mulyana, ketemu bahagia? Untuk menemukannya jelas ada maharnya. Maharnya, ya sumpah juga. Untuk itu, mari kita berumpah. Bersumpah akan belajar dan bekerja keras, teguh kukuh istiqomah dalam meraih cita-cita, tidak akan leha-leha, leda-lede, cukatar-cekutur seperti kuntul; menjunjung tinggi nama baik diri sendiri, orang tua, guru, dan sekolah.

Akhirnya, apa pun sumpah kita. Ia tidak akan bermakna tanpa karya nyata. Ingatlah Allah menagih sumpah kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: